Begini Sejarah Perubahan Kekaisaran Rusia Jadi Uni Soviet

oleh

JURNALJAMBI.CO, JAKARTA – Berabad-abad, Rusia berada di bawah kekuasaan tsar sebelum akhirnya menjadi Uni Soviet. Kaisar waktu itu memerintah dengan bantuan kasta birokrasi.

 

Tsar merupakan gelar penguasa monarki. Kata ‘tsar’ sendiri diketahui berasal dari gelar kaisar-kaisar Romawi, Caesar. Tsar pertama Rusia bernama Ivan IV Vasilyevich (1533-1584).

 

Dalam catatan Encyclopedia Britannica, Rusia memasuki fase krisis internal pada tahun 1917 yang berujung pada revolusi. Demi menjalankan stabilitas, rezim tsar bersikeras pada otokrasi kaku yang menutup partisipasi masyarakat dalam pemerintahan.

 

Tsar memiliki kekuasaan absolut dan tidak terbatas, yang tidak tunduk pada batasan konstitusional maupun institusi parlementer. Kekaisaran Rusia berkembang menjadi polisi keamanan yang kuat dan ada di mana-mana. Wilayahnya mencakup tiga benua, dari Eropa, Asia, hingga Amerika Utara.

 

Sekitar delapan puluh persen dari populasi kekaisaran terdiri dari petani. Petani komunal tidak memiliki tanah sendiri tetapi hanya mengolahnya untuk jangka waktu yang ditentukan oleh adat setempat.

 

Pada awal 1900-an, Rusia adalah salah satu negara paling miskin di Eropa dengan jumlah petani yang sangat besar dan minoritas pekerja industri yang miskin yang terus bertambah, dilansir dari History.

 

Sebagian besar Eropa Barat memandang Rusia sebagai masyarakat yang tidak berkembang dan terbelakang. Kekaisaran Rusia mempraktikkan perbudakan-suatu bentuk feodalisme di mana para petani tak bertanah dipaksa untuk melayani kaum bangsawan pemilik tanah-sampai abad ke-19.

 

Sebaliknya, praktik tersebut telah menghilang di sebagian besar Eropa Barat pada akhir Abad Pertengahan.

 

Pada tahun 1861, Kekaisaran Rusia akhirnya menghapus perbudakan. Emansipasi budak ini berpengaruh terhadap peristiwa yang mengarah ke Revolusi Rusia dengan memberi petani lebih banyak kebebasan untuk berorganisasi.

Baca Juga:  Dunia Hiburan Berduka, Pencipta Novel Lupus, Hilman Hariwijaya Meninggal

 

Rusia telah mengalami beberapa kali revolusi. Puncaknya pada tahun 1917 yang berhasil menjatuhkan kekaisaran dan diambil alih oleh Partai Komunis Uni Soviet.

 

Perkembangan Rusia jauh lebih lambat jika dibandingkan dengan Eropa Barat dan Amerika Serikat. Pada akhir abad ke-19, terjadi ledakan populasi yang mengakibatkan kepadatan penduduk dan kemiskinan baru bagi pekerja industri Rusia.

 

Protes besar oleh pekerja Rusia terhadap monarki menyebabkan pembantaian Minggu Berdarah tahun 1905. Ratusan pengunjuk rasa yang tidak bersenjata terbunuh atau terluka oleh pasukan tsar.

 

Pembantaian itu memicu revolusi Rusia tahun 1905, di mana para pekerja yang marah menanggapinya dengan serangkaian pemogokan yang melumpuhkan di seluruh negeri.

 

Revolusi Februari 1917

Setelah pertumpahan darah tahun 1905, Tsar Nicholas II menjanjikan pembentukan serangkaian majelis perwakilan, atau Dumas, untuk bekerja menuju reformasi. Namun, dirinya berulang kali membubarkan Duma.

 

Rusia terlibat dalam Perang Dunia I melawan Jerman. Namun, karena bukan lawan yang seimbang, korban Rusia jauh lebih besar dari yang pernah diderita negara manapun sebelumnya.

 

Kaum moderat bergabung dengan kelompok radikal Rusia untuk menggulingkan rezim tsar. Pada 8 Maret 1917 (23 Februari kalender Julian) terjadilah Revolusi Februari. Disebut demikian karena Rusia menggunakan kalender Julian hingga Februari 1918.

 

Para pekerja industri mogok dan demonstran bentrok dengan polisi. Duma membentuk pemerintahan sementara pada 12 Maret. Beberapa hari kemudian, Tsar Nicholas turun tahta, mengakhiri berabad-abad kekuasaan Romanov Rusia.

 

Para pemimpin pemerintahan sementara, termasuk pengacara muda Rusia Alexander Kerensky, mendirikan program liberal tentang hak-hak seperti kebebasan berbicara, persamaan di depan hukum, dan hak serikat pekerja untuk berorganisasi dan mogok. Mereka menentang revolusi sosial yang kejam.

Baca Juga:  Dunia Hiburan Berduka, Pencipta Novel Lupus, Hilman Hariwijaya Meninggal

 

Revolusi Bolshevik 1917

Puncak revolusi pun terjadi. Pada tanggal 6 dan 7 November 1917 (24 dan 25 Oktober dalam kalender Julian) kaum revolusioner kiri yang dipimpin oleh pemimpin Partai Bolshevik Vladimir Lenin melancarkan kudeta melawan pemerintahan sementara Duma.

 

Bolshevik dan sekutu mereka menduduki gedung-gedung pemerintah dan lokasi strategis lainnya di Petrograd. Mereka segera membentuk pemerintahan baru dengan Lenin sebagai kepalanya. Lenin menjadi diktator negara komunis pertama di dunia.

 

Pasca Revolusi Bolshevik atau yang disebut Revolusi Oktober ini, Perang Saudara antara Tentara Merah dan Tentara Putih Lenin pecah di Rusia. Pada 16 Juli 1918, Romanov diserang oleh Bolshevik. Perang ini berakhir pada tahun 1923 dan Tentara Merah Lenin mengklaim kemenangan dan mendirikan Uni Soviet. (Red)

 

Sumber: detikedu