Tanwir II Pemuda Muhammadiyah Resmi Ditutup, Diaspora Kader Jadi Agenda Utama

oleh

JURNALJAMBI.CO, JAMBI – Setelah berlangsung selama tiga hari sejak Jumat (4/3), Tanwir II Pemuda Muhammadiyah di Jambi resmi ditutup pada Ahad sore (6/3).

 

Digelar di Ratu Convention Center, acara juga dihadiri secara daring oleh Wakil Ketua MPR RI, Zulkifli Hasan dan Menteri Investasi RI/Kepala BKPM, Bahlil Lahadalia.

 

Tanwir Jambi menghasilkan sekian keputusan penting misalnya konsepsi Pemuda Negarawan, Khittah Jambi, hingga keputusan AD/ART terkait Muktamar ke-18 Pemuda Muhammadiyah mendatang.

 

“Alhamdulillah acara Tanwir Pemuda Muhammadiyah yang diselenggarakan di Provinsi Jambi ini berjalan dengan lancar, dan menghasilkan banyak sekali rekomendasi-rekomendasi untuk gerakan pemuda Muhammadiyah kedepannya. Saya selaku tuan rumah dari Provinsi Jambi mengucapkan terimakasih kepada pimpinan yang sudah menunjuk jambi sebagai tuan rumah,” ucap Ketua Pelaksana Tanwir II Pemuda Muhammadiyah, Rocky Candra.

 

Tema Pemuda Negarawan Harus Jadi Etika Publik dan Etika Kolektif Pemuda Muhammadiyah

 

Menutup Tanwir II, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir secara daring mengapresiasi kesuksesan gelaran Tanwir Pemuda Muhammadiyah.

 

Haedar berharap hasil Tanwir seperti Khittah dan yang lainnya dilaksanakan dengan penuh integritas dan membawa kemajuan dan pencerahan bagi kehidupan Persyarikatan, umat, bangsa dan kemanusiaan semesta.

 

“Kami tentu selalu membersamai dan juga sebagai orang tua mengayomi dan pada hal-hal tertentu memberikan masukan untuk kemajuan Pemuda Muhammadiyah,” tutur Haedar.

 

Terkait tema “Gerakan Pemuda Negarawan”, Haedar berpesan agar tema itu menjadi perhatian Pemuda Muhammadiyah untuk menjadikannya sebagai etika publik yang terinternalisasi dalam diri seluruh kader.

 

Pemuda Negarawan, katanya harus menjadi kata sejalan tindakan dan bukan retorika belaka. Kenegarawanan harus menjadi agenda kader yang dalam diaspora peran kebangsaan mereka mewarnai setiap kebijakan, hukum, dan keberpihakan yang adil pada seluruh golongan.

Baca Juga:  Ardi Hutabarat Secara Resmi Membuka Chess Open Turnamen Alam Barajo 2022

 

“Gerakan Pemuda Negarawan tentu selain mulia, luhur, juga tantangannya tidak sederhana karena memerlukan komitmen jiwa, alam pikiran, dan tindakan dari seluruh kader dari tingkat Pusat sampai Ranting dan dalam kelompok-kelompok jamaah agar dengan nilai-nilai Islam dalam perspektif Islam Berkemajuan memiliki orientasi kenegaraan dalam kehidupan keumatan dan kebangsaan,” kata Haedar.

 

“Isu ini tidak boleh menjadi (sekadar) tema Tanwir, tapi menjadi alam pikiran yang terinternalisasi dalam seluruh jiwa, pikiran, dan tindakan para Pimpinan sekaligus melembaga dalam gerakan Pemuda Muhammadiyah sehingga menjadi identitas kolektif,” pungkasnya.

 

Distribusi Kader Masih Menjadi Fokus Pemuda Muhammadiyah

 

Sementara itu, Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah, Cak Nanto berpesan agar penguatan konsolidasi, kebersamaan, dan komunikasi berjalan di seluruh jaringan Pemuda Muhammadiyah se-Indonesia.

 

Program pemetaan potensi kader kata dia harus diikuti dengan mendidik kader sebagai negarawan muda yang siap melakukan tajdid dalam diaspora kiprah keumatan dan kebangsaan.

 

“Karena itu mohon Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah percepat program kaderisasi dan kemandirian. Tanpa itu semua kita akan kehilangan ruang dan waktu mengejar ketertinggalan,” pesan Cak Nanto.

 

“Hasil Tanwir ini tidak untuk Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah, tapi untuk kita, seluruh kader se-Indonesia. Dukung dan kuatkan semua, mari kita bergandengan tangan karena kita harus bekerja keras mendistribusikan seluruh potensi kader,” pungkasnya.

 

*Khittah Jambi*

 

Terkait Khittah Jambi, terdapat lima poin yang menjadi garis besar perjuangan Pemuda Muhammadiyah. Lima poin tersebut antara lain;

 

1. Memiliki memiliki kapasitas dan integritas untuk mengajarkan dan mengamalkan Islam yang wasathiyah,

2. Memiliki pandangan nasionalis religius dan menjadi Garda terdepan dalam mengawal kepentingan bangsa dan negara serta mengamalkan nilai-nilai Pancasila UUD 45 dan Bhinneka Tunggal Ika,

Baca Juga:  Sikapi Wacana 3 Periode, Cak Nanto: Cukup Dua Periode, jadilah Bapak Bangsa

3. Mengedepankan nilai etika politik kenegaraan yang menjadi ciri khas Persyarikatan Muhammadiyah,

4. Tanggung jawab dalam meraih dan mengawal kekuasaan demi kesejahteraan masyarakat, dan

5. Berperan aktif menyuarakan isu-isu internasional. (Red)