Dikerjakan Asal-Asalan, Proyek Kemen PUPR Rp 31,9 M di Bungo Dibongkar

oleh

JURNALJAMBI.CO, MUARABUNGO – Proyek rehabilitasi dan renovasi sarana-prasarana sekolah di Tanjab Barat dan Bungo senilai Rp 31,9 miliar dikerjakaan asal-asalan oleh kontraktor PT Karya Bersama Putra Mandiri. Akibatnya, progress proyek ini lamban dan terancam tidak selesai.

Informasi yang dihimpun dari lapangan,  pembongkaran dilakukan di SDN 041 Pasar Rantau Embacang, SDN 008 Rantau Duku, SDN 020 Lubuk Mengkuang, SDN 043 Tanjung Belit dan SDN 071 Sungai Gambir.

“Memang ada lima sekolah di Bungo yang asal jadi, kami suruh bongkar,” ujar Kepala BPPW Jambi Azna Legawaty kepada media, Selasa (26/10).

Diketahui, untuk mengeruk untung sebanyak mungkin, proyek rehab dan renovasi itu dibangun di atas pondasi lama. Kemudian, besi yang digunakan diduga tidak sesuai ukuran dan sloop balok tidak sesuai aspek teknis.

Kadis Pendidikan Bungo Masril membenarkan adanya pembongkaran proyek lima sekolah tersebut karena ketahuan berbuat curang.  “Cerita persisnya saya tidak tahu karena itu di luar kewenangan saya,” ujarnya.

PT Karya Bersama Putra Mandiri memenangkan proyek itu dengan penawaran Rp 31,9 miliar untuk merehab dan merenovasi 16 sekolah di Tanjab Barat dan Bungo.  Di Bungo sebanyak lima sekolah, yang dikerjakan asal-asalan itu, dan di Tanjab Barat sebanyak 11 sekolah.

Sebagian sekolah di Tanjab Barat juga terkesan dikerjakan asal-asalan, salah satunya SMPN 1 Betara. Saat dikunjungi media pada Rabu  (27/10), batubata yang dipasang ternyata goyang saat disentuh. Kemudian, semen plesterannya mudah rontok saat dikorek dengan tangan.

Proyek ini juga sempat terhenti selama sebulan diduga karena kekurangan dana untuk pengadaan bahan dan maerial bangunan.

PT KBPM terdaftar sebagai milik Nusmirwan Lubis yang kini dikelola anaknya, Maries Satria Lubis. Namun proyek rehab sekolah di Tanjab Barat dan Bungo ini diserahkan kepada Gusrian Wirianto.

Baca Juga:  Viral !!! Bancakan Bonus Direksi Bank 9 Jambi Senilai 12,8 Miliar

Gusrian adalah kontraktor pembangunan jembatan Parit Gompong di Kualatungkal bermasalah karena opritnya menutupi jalan umum. Gusrian mengerjakan proyek senilai Rp 18 miliar tersebut dengan membawa bendera PT Jambi Energi Cemerlang.

Namun, Gusrian menolak menjawab permintaan konfirmasi dari media.

Kepala BPPW Azna Legawaty dan PPK-nya Edia Putra diminta beranggung jawab atas amburadulnya proyek ini dengan mengganti kontraktornya. Sejumlah aktivis anti korupsi dan media meminta aparat kejaksaan dan kepolisian menyelidiki kasus yang berpotenasi merugikan negara ini.(*/sa)