Izin dan Nama Sikumbang Waterpark Disoal, Begini Tanggapan Ketua DPRD Merangin

oleh

JURNALJAMBI.CO, Merangin – Kehadiran Sikumbang Waterpark mendadak viral di Kabupaten Merangin, Jambi. Bukan sekedar wahana yang disajikan, tapi izin dan nama ‘Sikumbang’ yang disoal.

Sejatinya, masyarakat Kabupaten Merangin telah lama menunggu hadirnya wahana rekreasi air modern yang terletak dibelakang Pasar Rakyat Kota Bangko itu. Namun, segelintir orang kemudian mempertanyakan (bukan mempermasalahkan, red) izin operasional dan penggunaan nama ‘Sikumbang’ yang dinilai tak membawa unsur-unsur kedaerahan Kabupaten Merangin.

Menanggapi hal tersebut, Ketua DPRD Merangin, Herman Efendi memberikan pandangannya. Ia yang sempat berkunjung bersama unsur pimpinan DPRD Merangin lainnya itu memberikan respon positif atas kehadiran Sikumbang Waterpark.

Menurutnya, Sikumbang Waterpark dapat menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat dan mampu menggerakkan roda perekonomian. Oleh sebab itu, Ia pun mengajak seluruh pihak untuk dapat menciptakan iklim kondusif bagi investasi.

“Sikumbang Waterpark ini merupakan wahana rekreasi modern yang terletak di dalam Kota Bangko. Tidak hanya rekreasi air, ada juga outbound, sepeda gantung dan kabarnya pihak pengembang juga akan membangun bungalow atau homestay. Letaknya juga sangat strategis. Selain ditengah kota, Sikumbang Waterpark berada dipuncak bukit yang sangat apik jika dipadukan dengan homestay atau bungalow,” ujar pria yang akrab disapa Abong Fendi itu.

“Saya sangat mensupport kehadiran Sikumbang Waterpark ini. Sebab, akan ada banyak tenaga kerja yang terserap. Kemudian, akan ada banyak wisatawan yang berkunjung. Tidak hanya dari Merangin, tapi juga dari luar Merangin. Artinya, ada transaksi ekonomi yang terbangun disana. Tentu ini sangat baik bagi  Kabupaten Merangin,” tambahnya.

Mengenai perizinan yang dipertanyakan oleh segelintir orang, Abong Fendi mendukung sikap kritis tersebut. Namun, Ia mengingatkan bahwa untuk mencari investor yang ingin menanamkan modal dalam jumlah besar itu tidaklah mudah.

Baca Juga:  Gerak Cepat Polsek Tabir Ulu, Tambang Emas Ilegal Dirazia

“Ada nilai investasi yang tertanam disana dan jumlahnya tidak sedikit. Dan harus diketahui bersama, pemilik modalnya itu orang Merangin. Terlepas darimana asal kedaerahannya, yang jelas Dia sudah menetap di Merangin sejak lama dan memiliki pandangan bisnis yang mampu menggerakkan roda perekonomian masyarakat,” terangnya.

“Soal izin, wajar saja hal itu dipertanyakan oleh masyarakat dan saya juga mendukung hal tersebut. Ini merupakan kewajiban setiap pelaku usaha. Namun, dengan adanya nilai investasi yang besar, jika memang ternyata ada izin yang belum dipegang, Saya yakin pengembang akan menyelesaikan izin-izin tersebut. Ya sambil jalan saja, yang penting izinnya selesai dan ada pendapatan untuk daerah. Intinya, mari kita ciptakan iklim yang kondusif bagi investasi agar ada banyak investor yang mau menanamkan modalnya di Kabupaten Merangin,” jelas Abong Fendi.

Lalu, bagaimana dengan nama ‘Sikumbang’ yang menjadi buah bibir masyarakat karena tidak membawa unsur daerah Merangin?

“Soal nama, Saya pikir itu sah-sah saja. Mau nama Sikumbang atau nama apapun itu adalah hak preoregatif pengembang dan itu tidak ada salahnya selagi tujuannya baik. Dari nama Sikumbang ini, saya menangkap dua hal yang menjadi asal usulnya. Pertama itu adalah nama suku di Sumatera Barat. Jika itu benar, mungkin pengembang ingin menunjukkan siapa pemilik dari usaha ini. Bukan untuk dibangga-banggakan, bisa saja ini merupakan petuah dari tetua adat yang jika nanti membuka usaha, buatlah nama ini atau nama itu. Simpelnya begitu,” beber Abong Fendi.

“Yang kedua, ada sisi historis dari nama Sikumbang ini. Konon katanya, lokasi Waterpark ini dulunya adalah jalur perlintasan macan kumbang yang kemudian disebut dengan nama Sikumbang. Jika itu benar, justru saya menyarankan agar namanya ditambah menjadi “Puncak Sikumbang”. Tujuannya adalah, agar dari nama itu orang sudah bisa menggambarkan seperti apa kondisi waterpark yang sejatinya berada dipuncak bukit,” pungkasnya. (*)