Gulai Belut Tabir, Menu Idola yang Menasional, Jadi Menu Buka Puasa? Mak Nyuss…

oleh -11 views

JURNALJAMBI.CO – Sepintas, menu gulai belut terdengar biasa saja. Tapi tidak dengan gulai belut khas masyarakat Kecamatan Tabir Kabupaten Merangin, Jambi.

Dengan racikan bumbu tradisional yang diwariskan secara turun temurun, gulai belut tabir yang dicampur sayur pakis terasa begitu nikmat. Cita rasanya yang pedas-pedas ajib memberikan sensasi tersendiri bagi para penikmatnya. Tak jarang, jika sudah mencicipi, dipastikan bakal ketagihan.

Kemashuran gulai belut tabir sudah tak asing lagi bagi masyarakat Kabupaten Merangin. Menu ini menjadi menu andalan Pemerintah Kabupaten Merangin kala menjamu tamu kehormatan dan tamu undangan. Seperti tokoh-tokoh nasional hingga artis Ibu Kota.

Tokoh masyarakat Tabir, Jamaludin menuturkan, gulai belut merupakan hidangan utama masyarakat baik pada bulan puasa maupun pada bulan lainnya. Pria yang akrab disapa Mamak Udin itu juga membeberkan rahasia dibalik kenikmatan gulai belut.

 

*Kunjungi dan jadilah member www.jb.jurnaljambi.co

 

“Gulai Belut ini rasanya beda dengan gulai-gulai lainnya. Gulai ini tidak bisa sembarangan saat memasaknya. Untuk belut harus sesuai dengan takaran sayut pakis, begitu juga dengan rempah dan bumbu campuran. Salah masuk rasanya pasti tidak sesuai dengan yang diinginkan,” ujar Mamak Udin.

“Gulai ini sudah diakui , baik ditingkat provinsi maupun nasional. Bahkan sudah beberapa kali menu gulai belut ditayangkan di TV nasional. Kalau bulan puasa, hampir setiap pasar beduk yang ada di kecamatan tabir itu ada pedagang yang menjualnya. Ini memang menu idola yang rasanya mak nyus,”imbuhnya sembari menuturkan bahwa mantan ketua PKK provinsi Jambi, Yusniana HBA dan Ketua PKK Kabupaten Merangin Hesti Al Haris sudah beberapa kali syuting cara memasak gulai belut tabir.

“Makanya, kalau ada tamu baik di rumah maupun yang di undang, biasanya gulai belut menjadi hidangan yang disuguhkan. Kalau lagi ngumpul dengan keluarga, tanpa hidangan gulai belut rasanya belum afdol,” selorohnya.

Penulis: Kariuk
Editor: Ivan Ginanjar