Karhutla Hanguskan 18 Hektare di Aceh Selama Januari 2019

oleh

JURNALJAMBI.CO- Peristiwa kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) telah menghaguskan sekitar 18 hektare total luas hutan dan lahan, terutama gambut kering selama Januari 2019 di wilayah Aceh.

“Catatan kami, ada seluas 18 hektare hutan dan lahan dalam kondisi hangus terbakar pada Januari 2019,” kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), Teuku Ahmad Dadek di Banda Aceh, Jumat.
Ia menerangkan, Karhutla tersebut terjadi pada tiga kabupaten yang terletak di wilayah Barat-Selatan di provinsi paling barat Indonesia dengan wilayah dikenal non zoom atau tidak mengenal musim, baik penghujan maupun kemarau.
Tercatat di Aceh Barat masih banyak terjadi, yakni sebanyak dua kali kejadian Karhutla, sedangkan Aceh Selatan, dan Aceh Jaya masing-masing satu kali terjadi Karhutla.
Mayoritas daerah yang terbakar ini di pesisir pantai Barat-Selatan, seiring minimnya curah hujan akibat berbagai faktor, terutama cuaca di daerah berbatasan langsung dengan wilayah perairan Samudera Hindia.
“Pada Februari 2019, telah terjadi Karhutla, baik di pesisir Barat-Selatan, dan pesisir Timur, terutama di Kota Lhokseumawe, Aceh. Cuma belum kita total berapa jumlah lahan yang terbakar, karena belum habis Februari 2019,” katanya.
BPBA mencatat sepanjang 2018 sedikitnya telah terjadi Karhutla yang menghaguskan 856,12 hektare yang sebagian besar di dominasi oleh lahan gambut dalam kondisi kering di13 daerah dari total 23 kabupaten/kota di Aceh.
“Umumnya Karhutla ini terjadi di musim kemarau. Cuaca panas disertai angin kencang,”ujar Dadek.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) setempat menyatakan, cuaca dewasa di Aceh menunjukkan sedang masa peralihan dari musim penghujan menuju ke musim kemarau.
Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Blangbintang, Aceh, Zakaria Ahmad mengatakan, Februari 2019 merupakan masa peralihan cuaca dari musim penghujan menuju kemarau di wilayah paling Barat ini.
“Cuaca panas seperti saat ini berpotensi muncul angin kencang, dan cenderung terjadi puting beliung di suatu wilayah akibat tumbuhnya awan cumulonimbus,” katanya.(*)
Sumber:Antaranews.com