Antisipasi Tsunami Susulan, Masyarakat Diimbau Jauhi Pantai

oleh

JURNALJAMBI.CO – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah merekomendasikan masyarakat agar tidak melakukan aktivitas pada radius 500 meter hingga 1 kilometer dari pantai. Hal itu untuk mengantisipasi adanya tsunami susulan. Seperti diketahui, tsunami yang dibangkitkan longsor bawah laut akibat erupsi Gunung Anak Krakatau.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi Kementerian ESDM telah meningkatkan aktivitas Gunung Anak Krakatau dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) terhitung pukul 06.00 WIB pagi ini.

“Untuk itu pemantauan berkelanjutan tetap dilakukan. Tentu saja apabila ada perubahan sewaktu-waktu akan ditinjau ulang, baik itu menaikkan atau menurunkan (status),” ujar Sekretaris Badan Geologi Antonius Ratdomopurbo (Purbo) di Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (27/12).

1. Longsor lereng perlu diwaspadai

Seperti diketahui, Gunung Anak Krakatau mengalami letusan-letusan strombolian, yaitu letusan yang disertai lontaran lava pijar dan aliran lava pijar yang dominan mengarah ke tenggara. Menurut Purbo, strombolian ke atas tidak akan menyebabkan tsunami secara langsung. Sebab, magma yang keluar mengalir pelan-pelan.

“Maksudnya (magma) menyentuh air pelan-pelan itu tidak menimbulkan tsunami. Efek langsung dari gunung ke tsunami tidak ada, karena magma jalannya pelan-pelan. Sebaliknya, yang perlu diwaspadai adalah longsor lereng,” ungkap Purbo.

2. Longsor sulit dideteksi

Menurut Purbo, longsor lereng yang berpotensi tsunami sulit dideteksi. Namun, hal itu dapat diantisipasi dengan cara mendeteksi efek longsor secepat mungkin.

“Kita itu bermasalah dengan longsor. Kita kesulitan deteksi longsor, jadi yang bisa dilakukan adalah mendeteksi efek longsor itu. Kami sudah memberi masukan ke BMKG seperti itu. Kalau tidak bisa deteksi longsor, ya deteksi efek dari longsor secepatnya,” kata Purbo.

3. Badan Geologi merekomendasikan alat pendeteksi tsunami di Pulau Panjang

Purbo menjelaskan, menurut undang-undang yang harus memberi early warning atau peringatan dini terkait tsunami dan longsor adalah BMKG. Namun, pihaknya tetap berwenang memberikan rekomendasi letak pemasangan alat pendeteksi.

“Kami sudah memberikan masukan ke BMKG. Jarak Gunung Krakatau ke pantai itu kan sekitar 42 km, kami sarankan alat pendeteksi dipasang di Pulau Panjang karena jarak terdekat dari Krakatau ada di sana. Jadi kalau ada potensi, Pulau Panjang yang kena duluan,” tuturnya.

4. Hampir seluruh tubuh Gunung Anak Krakatau jadi kawasan rawan bencana

Terkait potensi bencana erupsi Gunung Anak Krakatau, kata Purbo, Peta Kawasan Rawan Bencana (KRB) menunjukkan hampir seluruh tubuh Gunung Anak Krakatau yang berdiameter kurang lebih 2 km merupakan kawasan rawan bencana.

“Potensi bahaya dari aktivitas Gunung Anak Krakatau saat ini adalah lontaran material pijar, aliran lava dari pusat erupsi dan awan panas yang mengarah ke selatan. Sedangkan sebaran abu vulkanik tergantung dari arah dan kecepatan angin,” jelasnya.

Sebelumnya, pada 26 Desember 2018 dilaporkan terjadi hujan abu vulkanik di beberapa wilayah, yakni di Cilegon, Anyer dan Serang. Tim Tanggap Darurat PVMBG telah melakukan cek lapangan untuk mengonfirmasikan kejadian tersebut dan melakukan sampling terhadap abu vulkanik yang jatuh.

5. Kegempaan didominasi tremor menerus

Pasca-kejadian tsunami, lanjut Purbo, aktivitas Gunung Anak Krakatau masih tetap tinggi. Secara visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas tipis hingga tebal tinggi sekitar 500 meter dari puncak dengan angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara dan barat daya.

“Kegempaan masih didominasi oleh tremor menerus dengan amplitudo mencapai 32 mm (dominan 25 mm),” ungkapnya.

Sumber : IDN Times