Rupiah Kini Terlemah di Asia, Ini Penyebabnya

oleh

JURNALJAMBI.CO – Dolar Amerika Serikat (AS) sejatinya masih dirundung masalah. Namun itu tidak menghentikan penguatan mata uang ini terhadap rupiah.

Pada Selasa (11/12/2018) pukul 09:05 WIB, US$ 1 di pasar spot setara dengan Rp 14.610. Rupiah melemah 0,41% dan menyentuh titik terlemah sejak 15 November.

Padahal dolar AS yang sempat menguat kini berbalik melemah. Pada pukul 09:08 WIB, Dollar Index (yang mencerminkan posisi greenback secara relatif terhadap enam mata uang utama dunia) melemah 0,11%.

Investor kembali dihantui oleh bayangan risiko resesi di Negeri Paman Sam. Tanda-tanda ke arah sana terlihat dari pasar obligasi pemerintah.

Pada pukul 09:10 WIB, imbal hasil (yield) obligasi pemerintahan Presiden Donald Trump tenor 2 tahun berada di 2,7251% sementara tenor 3 tahun adalah 2,7293%. Lebih tinggi ketimbang tenor 5 tahun yaitu 2,7058%.

Yield tenor pendek yang lebih tinggi ketimbang tenor panjang sering disebut inverted yield. Bagi pelaku pasar, inverted yield (apalagi jika bertahan cukup lama) adalah prediktor bagi terjadinya resesi. Sebab, pelaku pasar menilai risiko dalam jangka pendek lebih tinggi dibandingkan jangka panjang.

Selain itu, hawa kebijakan moneter The Federal Reserve/The Fed yang tidak lagi ketat (hawkish) kian terasa. Memang betul bahwa kemungkinan Jerome ‘Jay’ Powell cs kemungkinan besar akan menaikkan Federal Funds Rate pada rapat 19 Desember. Namun untuk 2019, sepertinya kenaikan suku bunga acuan tidak akan seagresif perkiraan sebelumnya.

Goldman Sachs memperkirakan The Fed baru akan kembali menaikkan suku bunga acuan pada Maret 2019. Setelah itu suku bunga diperkirakan naik lagi pada Juni dan bertahan hingga akhir tahun.

Artinya, The Fed hanya menaikkan suku bunga acuan sebanyak dua kali pada 2019. Lebih sedikit dibandingkan proyeksi sebelumnya yaitu tiga kali.

“Kami memperkirakan kemungkinan kenaikan suku bunga pada Maret bahkan turun sedikit di bawah 50%. Setelah itu suku bunga akan naik lagi sebesar 25 basis poin pada Juni, yang bertahan sampai akhir tahun,” sebut Jan Hatzius, Kepala Ekonom Goldman Sachs, mengutip Reuters.

 

 Mengapa Rupiah Jadi yang Terlemah?

Faktor-faktor itu membuat dolar AS yang sempat di atas angin kini harus kembali terjerembab ke bumi. Bahkan di Asia pun greenback tidak lagi digdaya.

Pada pukul 09:19 WIB, berikut nilai tukar dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama benua Kuning, mengutip data Refinitiv:

Namun, rupiah masih saja tidak berdaya di hadapan dolar AS. Bahkan rupiah kini menjadi mata uang terlemah di Asia, menggeser posisi yuan China yang saat ini malah mampu menguat.

Ada beberapa hal yang membuat langkah rupiah begitu berat. Pertama adalah perkembangan harga minyak. Pada pukul 09:23 WIB, harga minyak jenis brent tercatat naik 0,42% sementara light sweet juga bertambah 0,35%.

Dalam sebulan terakhir, harga komoditas ini memang masih anjlok sekitar 14%. Namun lebih baik ketimbang posisi sebelumnya yang sempat amblas di kisaran 22%.

Harapan damai dagang AS-China membuat si emas hitam perlahan mulai bangkit. Trump dan Presiden China Xi Jinping sepakat untuk melakukan gencatan senjata sampai 1 Maret 2019. AS tidak akan menaikkan bea masuk bagi impor produk-produk China dari 10% menjadi 25%, sementara China berkomitmen untuk lebih banyak membeli barang dari AS.

Pelaku pasar berharap damai dagang ini tidak berhenti pada 1 Maret 2019, tetapi berlangsung selamanya. Ini akan membuat perekonomian global kembali bergairah sehingga permintaan energi meningkat. Hasilnya tentu harga minyak perlahan merangkak naik.

Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak adalah berita buruk. Sebagai negara net importir migas, kenaikan harga minyak akan membuat beban impor kian membengkak. Akibatnya defisit transaksi transaksi berjalan menjadi semakin menganga dan rupiah kehilangan pijakan untuk menguat.

Faktor kedua adalah data ekonomi terbaru tidak menguntungkan rupiah. Bank Indonesia (BI) merilis penjualan ritel pada Oktober hanya tumbuh 2,9% year-on-year (YoY). Melambat dibandingkan bulan sebelumnya yaitu 4,8% YoY. Penjualan ritel sudah melambat selama 2 bulan beruntun.

Ini bisa diartikan bahwa masih ada masalah dalam konsumsi dan daya beli rumah tangga. Padahal konsumsi rumah tangga menyumbang lebih dari separuh dalam pembetukan Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Ketika konsumsi melambat, maka pertumbuhan ekonomi niscaya akan ikut terseret.

Sementara faktor ketiga adalah ambil untung (profit taking) yang masih menghantui rupiah. Meski hari ini melemah, tetapi dalam sebulan terakhir rupiah masih menguat 1,42% di hadapan dolar AS.

Bagi sebagian investor (terutama asing), angka ini sudah cukup menarik untuk mencairkan cuan. Akibatnya rupiah menjadi rawan terkena aksi jual sehingga risiko depresiasi masih tetap membayangi.

 

Sumber : CNBC Indonesia