Zumi Zola Terkenal Baik di Media Sosial

oleh

ZUMI ZOLA, Gubernur nonaktif Provinsi Jambi 2016 – 2021 adalah salah satu Gubernur yang muda, Gubernur yang tampan, mapan, dekat dengan masyarakat kecil, rajin berangkat ibadah umrah, dan banyak lagi hal baik lainya yang terlintas dalam persepsi masyarakat tentang beliau.

Penilaian masyarakat tersebut bersumber dari latar belakang beliau ketika menjadi artis dan dari setiap postingan beliau di sosial media selama menjabat Gubernur. Setiap postingan Zumi Zola menggambarkan nilai keteladanan pemimpin dan menjadi harapan baru di Provinsi Jambi yaitu sosok pemimpn muda yang akan membawa Jambi lebih baik.

Postingan Zumi Zola menjalankan aktivitas sebagai Gubernur yang cepat tanggap pada situasi dan kondisi yang terjadi, hadir dalam proses pembangunan dan pelayanan, dekat dengan masyarakat kecil dan ikut andil dalam perayaan hari  besar Negara dan Agama membuat kita optimis bahwa Jambi tuntas yang menjadi cita cita beliau akan dapat terlaksana.

Fakta mengejutkan datang dari KPK pada kasus suap yang melibatkan Zumi Zola. Febri Diansyah juru bicara KPK mengatakan bahwa telah melakukan penyidikan terhadap 10 orang saksi dari Pemprov Jambi, DPRD Jambi, Swasta dan termasuk Zumi Zola terkait dugaan suap pengesahan R-APBD Provinsi Jambi tahun anggaran 2018.

Dengan temuan bukti yang cukup, pada Jum’at 2 Februari 2018, Zumi Zola dan Arfan selaku Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pekerjaan Umum Provinsi jambi, KPK resmi mengumumkan keduanya sebagai tersangka (sumber:Kompas 3/2/2018).

Peristiwa tersebut membuat masyarakat Jambi prihatin, sedih, tidak percaya, marah dan ada juga yang mengirimkan doa agar Zumi Zola tidak terlibat. Kita hanya dapat menyerahkan  sepenuhnya pada penegak hukum untuk ditindaklanjuti dengan seadil – adilnya.

Setelah proses persidangan yang dilalui terdakwa Gubernur nonaktif Jambi Zumi Zola, pada Kamis, 6 Desember 2018 Hakim memutuskan vonis bersalah kepada Zumi Zola dalam kasus suap dan gratifikasi. Dia dihukum 6 tahun penjara dan denda Rp. 500 juta subsider 3 bulan kurungan serta dicabut hak politiknya selama 5 tahun (sumber:Kompas 6/12/2018).

Kejadian di atas membuat kita sadar, bahwa yang tejadi dibalik layar tangkap kamera atau postingan yang dibagikan ke sosial media tidak menjadikan tolak ukur bahwa seseorang berlaku benar. Pencitraan memang penting untuk menyerap simpati dari rakyat, asalkan citra yang dibangun jujur, sesuai dengan nilai, moral dan etika pemimpin. Kemajuan teknologi dan internet menjadi sarana pemimpin dan  setiap orang untuk mengespresikan diri, sehngga dapat diakui oleh banyak orang.

Pemimpin dapat saja menggunakan kekuasaanya untuk kebaikan maupun keburukan. Nilai dan kode etik pribadi seorang pemimpin lah menjadi faktor penentu menggunakan sumber kekuasaan yang tersedia tersebut. Kasus suap Zumi Zola mungkin menghadapi dilema yang mengharuskan beliau memilih serangkaian nilai dan program/prioritas yang saling bertolak belakang.

Semestinya, apapun kasusnya, pemimpin menciptakan keteladanan moral yang menjadi modal dari keseluruhan bagi masyarakat maupun pemerintahan Provinsi jambi. Kita semua yang sedang dan akan menerima amanah dalam memimpin, mari merawat ideologi dan akal sehat kita bahwa akhirnya memimpin bukan hanya dinilai dari pencapaian tujuan saja, tapi pada kerangka nilai dan moral yang dimiliki (Gerdner). (*)

Penulis : Aris Setia Budi (Mahasisiwa MM UNP) Asal Kabupaten Merangin, Jambi