Benarkah, Wanita yang Berkurban Harus Sudah Menikah?

oleh

JURNALJAMBI.CO – Bulan Zulhijjah identik dengan ibadah haji dan kurban. Amalan sunnah ini sangat dianjurkan karena sangat dicintai Allah SWT.

Para ulama bahkan menyatakan kedudukan kurban adalah sunah muakad. Artinya, sangat dianjurkan. Khususnya bagi mereka yang memiliki kelapangan harta.

Syeikh Wahbah Al Zuhaili dalam kitabnya Al Fiqhul Islami wa Adillatuhu memberikan penjelasan demikian.

“Sesunguhnya kurban hukumnya sunah muakkadah atau sangat dianjurkan, bukan wajib. Namun demikian, dimakruhkan meninggalkan kurban bagi orang yang mampu melakukannya.”

Ibnu Hazm dalam Al Muhalla menjelaskan ibadah kurban tidak membedakan antara laki-laki dan perempuan. Apalagi apakah sudah menikah atau belum.

Menurut Ibnu Hazm, kesunahan kurban terletak pada kemampuan seseorang. Sehingga, status sudah menikah atau belum tidaklah menjadi syarat kurban.

“Berkurban boleh dilakukan oleh musafir, sebagaimana boleh dilakukan bagi orang yang mukim, dan tidak ada bedanya. Demikian pula wanita.”

Ibnu Hazm melanjutkan setiap orang yang butuh amal baik dianjurkan untuk berkurban.

“Juga berdasarkan sabda Rasulullah SAW tentang berkurban, dan beliau tidak membedakan antara orang pelosok dengan orang kota, musafir dengan mukim, lelaki dengan wanita. Karena itu, membeda-bedakan mereka adalah salah, dan tidak dibolehkan.”  (*)

Sumber : Dream.co.id