Mengharukan… Ditengah Duka Meninggalnya Ibunda, Kakak Beradik Ini Tetap Meraih Prestasi di MTQ Batanghari

oleh

JURNALJAMBI.CO – “Berangkatlah nak, Induk (Ibu) dak papo. Lah agak baikan. Jago be adik kamu, jangan belago, fokus be samo lomba, jangan macam-macam,” ujar Siti Fatimah (56) kepada kedua anaknya, Hamdani (19) dan Sibawaihi (17).

Fatimah seolah menutupi rasa sakitnya. Ia yang tengah dirawat di klinik Simpang Jelita Margoyoso Kecamatan Tabir Lintas itu didiagnosa menderita penyakit maag kronis dan harus dirawat intensif. Ia berpesan demikian lantaran Hamdan dan bawai –begitu sapaan akrabnya- kerap bertengkar. Bukan karena tidak akur, tapi hanya sebatas keributan antara adik dan kakak.

Hamdan adalah anak ke-10 sementara Bawai anak ke-11 (bungsu). Keduanya tak menyangka, ucapan ibundanya, Fatimah adalah pesan terakhir. Tanpa keraguan, keduanya pun pamit untuk mengikuti Lomba MTQ Tingkat Provinsi Jambi di Kabupaten Batanghari, Kamis (19/07/2018).

Usai pamit pada Ibunda, sang ayah, Uyub (60) mengantarkan keberangkatan Hamdan dan Bawai ke Rumah Dinas Bupati Merangin.

“Jangan dipikir nian. Induk tu lah baikan. Fokus bae. Denga apo kato induk waktu dirumah sakit tadi,” ucap Uyub mengulang pesan Fatimah.

Mendapat dukungan dari kedua orang tuanya, dengan penuh keyakinan Hamdan dan Bawai berangkat menuju Kabupaten Batanghari. Tak disangka, kabar duka segera menghampiri. Baru sampai Kabupaten Sarolangun, Hamdan dan Bawai yang tengah menunaikan ibadah sholat dzuhur di Masjid Agung mendapat kabar dari Uyub bahwa ibunda dalam kondisi kritis.

Mendengar kabar tersebut, hati Hamdan berkecamuk. Begitu pula dengan Bawai. Apalagi Ia tak bisa berkomunikasi dengan Ibunda yang kondisinya memang benar-benar kritis. Keduanya pun ragu apakah meneruskan perjalanan atau pulang menemui Ibunda. Atas izin dari official, Hamdan dan Bawai sudah bulat untuk menemui ibunda meski harus naik angkot.

Sayang, umur manusia tak ada yang bisa menerka. Setiba di Klinik Simpang Jelita Hamdan dan Bawai mendapati ibunda telah meninggal dunia sekitar pukul 16.00. Tangisan duka memecah dari keduanya. Air mata tak mampu lagi dibendung. Ibunda yang mereka sayangi telah berpulang ke Rahmatullah. Hamdan tak mampu menahan kegetiran. Tubuhnya lunglai dan terus menitikkan air mata.

“Kami dak sempat bertemu dengan Induk. Kami jugo dak lagi tepikir nak ikut MTQ. Kami Cuma nak ngurus jenazah induk,” kisah Hamdan diiringi linangan air mata.

Setelah Shalat Jum’at (20/07/2018), jenazah almarhum dikebumikan di Desa Tanjung Ilir Kecamatan Tabir. Meski dalam keadaan duka, Hamdan dan Bawai tetap terlihat tegar dan terus membacakan ayat-ayat suci untuk ibunda tercinta.

Malam hari usai mengaji, Uyub menghampiri Hamdan dan Bawai. Uyub ingin, Hamdan dan Bawai tetap mengikuti MTQ di Batanghari.

“Berangkatlah nak, jangan kamu ragu. Disini ngaji, disano (batanghari, red) ngaji jugo. Samo bae. Yang penting niatkan bae untuk induk kamu,” ucap Uyub menyemangati Hamdan dan Bawai.

Kala itu, official MTQ Kabupaten Merangin memang sempat menghubungi Hamdan dan Bawai. Tapi, hanya sebatas menanyakan kabar dan memberikan ucapan duka. Official juga tidak meminta Hamdan dan Bawai untuk kembali berangkat ke Batanghari.

Namun, berkat dorongan dan motivasi dari Uyub, Hamdan dan Bawai memutuskan untuk mengikuti MTQ.

Sabtu pagi, Uyub mengantar Hamdan dan Bawai berangkat ke loket travel menuju Batanghari. Langkah Hamdan dan Bawai tak segesit sebelumnya. Keduanya masih terguncang atas duka meninggalnya ibunda tercinta.

Sepanjang perjalanan, Hamdan dan Bawai hanya terdiam. Pikirannya menerawang dan sesekali terisak. Dua kakak beradik itu masih begitu berduka. Namun, dorongan sang Ayah menguatkan tekad untuk tetap mengikuti MTQ.

Setiba di Batanghari, Hamdan dan Bawai menuju mess. Official terkejut melihat kedatangan mereka. Namun, atas keyakinan diri, official pun mendaftarkan Hamdan sebagai Kafilah Merangin Cabang hafidz 30 Juz. Sementara adiknya, Bawai sebagai Kafilah Merangin Cabang Hafidz 10 juz.

Ya, Hamdan dan Bawai memang sudah berkali-kali menjuarai MTQ Cabang Hafidz 30 dan 10 juz. Hamdan sudah 4 kali juara MTQ Tingkat Kecamatan Tabir, 2 kali juara MTQ Tingkat Kabupaten Merangin dan 3 kali juara MTQ Tingkat Provinsi Jambi.

Sementara Bawai sudah 4 kali juara MTQ Tingkat Kecamatan Tabir, 4 kali juara MTQ Tingkat Kabupaten Merangin dan 2 kali juara MTQ Tingkat Provinsi Jambi.

Dengan penuh ketegaran, dua beradik ini saling berlatih dan saling memberi soal. Maklum, peserta MTQ cabang hafidz memang dituntut untuk menguasai ayat-ayat alqur’an. Dalam perlombaan, juri akan memberikan soal atau membacakan sedikit ayat dan peserta yang melanjutkannya.

Hari perlombaan tiba. Bawai yang baru saja tiba hari Sabtu harus langsung mengikuti perlombaan cabang Hafidz 10 juz di hari Minggu. Dalam benaknya, Bawai tak memikirkan target juara. Ia hanya ingin menghadiahkan bacaan ayat alqur’an untuk ibunda tercinta.

Begitu pula dengan Hamdan yang mengikuti lomba cabang hafidz 30 juz pada Selasa (24/07/2018). Target juara bukanlah hal yang utama. Yang terpenting baginya bisa memberikan yang terbaik bagi Merangin dan khususnya bagi almarhum Ibunda tercinta.

Tak disangka, meski dalam keadaan berduka, Hamdani dan Sibawaihi ternyata tetap menorehkan prestasi. Hamdani meraih juara ke-3 cabang Hafidz 30 juz. Sementara Sibawaihi meraih juara ke-2 cabang Hafidz 10 juz.

Lagi-lagi linangan cucur air mata tertumpah. Bukan hanya dika, tapi juga linangan air mata bahagia. Hamdani dan Sibawaihi segera mengabarkan prestasi tersebut kepada Uyub yang disambut tangis keharuan.

“Alhamdulillah nak, alhamdulillaaah….mungkin ini hadiah untuk almarhum induk kamu. Alhamdulillah naak…,” ujar Uyub diujung telpon.

Penulis : Saihu

Editor  : Ivan Ginanjar