Bukan Dibunuh, Begini Kronologis Penemuan Mayat Terbakar di Pamenang….

oleh

JURNALJAMBI.CO – Penemuan mayat dengan kondisi terbakar Jum’at (13/07/2018) di Kecamatan Pamenang Kabupaten Merangin, Jambi cukup menghebohkan warga.

Banyak warga yang berspekulasi bahwa korban yang belakangan diketahui bernama Jaka (27) warga Kabupaten Sarolangun itu tewas dibunuh. Ternyata, fakta yang sebenarnya sangatlah berbeda.

Informasi yang dihimpun jurnaljambi.co, sebelum ditemukan tewas, korban bersama teman-temannya asik berpesta minuman beralkohol di Sarolangun pada sabtu (07/07/2018). Usai menenggak alkohol, korban bersama rekannya bertolak menuju Pamenang dengan menumpang mobil dijalan.

Setibanya di Pamenang, korban yang merupakan anak punk itu kembali menimkati alkohol bersama Ipan (27), Dodi (27) serta Nisa (16). Parahnya, minuman yang mereka tenggak adalah alkohol murni ditambah obat jenis grantusif sebanyak tiga lempeng.

Akibat menenggak minuman oplosan itu, korban pun merenggang nyawa. Ketiga rekan korban yang panik sepakat menyembunyikan jasad korban di tempat pembuangan sampah dan langsung melarikan diri.

Sepekan kemudian atau Jum’at (13/07/2018), Sigit (37) seorang pedagang pecel lele yang tak jauh dari lokasi kejadian mencium aroma busuk yang menyengat. Sigit menduga, bau busuk itu berasal dari bangkai hewan yang ada ditumpukan sampah.

Tanpa menaruh rasa curiga, Sigit lantas membakar sampah dan pergi menjemput temannya Tupar (58). Sepulang dari menjemput Tupar, ternyata bau busuk tak kunjung hilang. Penasaran, Tupar mendatangi lokasi sampah dan mencoba mencongkel triplek yang Ia duga menjadi sumber bau. Benar saja, dibalik triplek itu terdapat sesosok mayat yang sudah membusuk dan dipenuhi ulat.

Polisi pun bergerak cepat melakukan penyelidikan. Hasilnya, ketiga rekan korban ditetapkan sebagai tersangka.

“Ketiganya ditetapkan tersangka lantaran dengan sengaja melakukan penyembunyian jasad korban dan mengajak korban berpesta alkohol,” ujar Kapolres Merangin, AKBP I Kade Utama Wijaya melalui Kasat Reskrim AKP Sandi Muttaqin. (*)

Penulis : Busri

Editor    : Ivan Ginanjar