Istri Korban Gantung Diri, Ngatini: Sayapun Heran, Kok Bisa Bunuh Diri

oleh

JURNALJAMBI.CO- Wajahnya masih menyiratkan duka mendalam. Dia adalah Ngatimi (44) istri dari korban gantung diri, Pasran (48) warga Desa Kungkai, Kecamatan Bangko Barat. Pasran adalah korban gantung diri pada, Sabtu (14/4) malam. Dia ditemukan warga tergantung di salah satu pohon karet dalam kebun warga setempat.

Penasaran dengan cerita pilu tersebut, Selasa, (17/4) pagi, jurnaljambi.co akhirnya mencoba mengunjungi rumah korban di RT 17 Dusun Kampung Nanas Desa Kungkai. Rumah itu sudah tampak sepi, yang ada hanya Ngatini dan beberapa tetangga korban.

“Saya tak menyangka suami saya bisa bunuh diri. Tidak ada masalah selama dia bergaul disini, begitu juga sama saya, tidak ada persoalan selama ini. Saya pun heran, kok bisa dia melakukan hal nekat (bunuh diri) itu,”ujar Ngatini dengan mimik pilu, membuka percakapan dengan jurnaljambi.co.

Entah apa yang ada dalam pikiran  suaminya, Ngatini hingga saat ini masih tidak paham. Padahal, dia sudah membangun bahtera rumah tangga berpuluh tahun. Dari hasil pernikahannya itu, mereka juga sudah dikaruniai dua anak, sulung sudah berumur 25 tahun sementara sikecil baru kelas Enam SD.

“Terpaksa saya sendiri harus berjuang membesarkan anak kami yang masih kecil ini. Sudah tak sanggup lagi rasanya disini, saya pengen pindah ke Jawa (daerah asal mereka) saja,”tuturnya.

Sayang sekali sebenarnya, keluarga perantauan ini padahal sudah memiliki rumah di Desa Kungkai. namun semua itu terpaksa harus ditinggalkan Ngatini karena tak ingin mengingat kisah pilunya karena suami bunuh diri.

“Ini saya mau berangkat ke jawa, saya terpaksa terlambat berangkatnya karena ngurus anak dulu, nitip ke tetangga. Almarhum suami saya dikubur di sana (Pati Jawa Timur),”terusnya.

Ngatini juga bercerita soal sosok sang suami. Menurutnya suaminya itu adalah orang yang bertanggungjawab dan penyayang. Diapun juga mengaku, pergaulan suaminya dengan tetangga selama ini tidak ada persoalan.

Pernah berutang atau mungkin persoalan keluarga sehingga Pasran nekat gantung diri? Ngatimi tak bisa menjawabnya. Namun dia mengaku, saat polisi memeriksa jasad korban, polisi menemukan secarik kertas berbentuk surat.

“Saya juga tidak tahu isi-nya, surat itu lansung diamankan pihak polisi. Saya juga lupa waktu itu mau nanya ke polisi, karena saat kejadian saya shock dan tidak kepikiran apa-apa,”terangnya.

Ada kecurigaan jika korban dibunuh, karena di tangan korban dipenuhi luka lecet. Namun hal ini sangat diragukan. Tetangga dekat korban, Nurkholis malah mengilustrasikan jika luka lecet ditangan korban karena korban saat sakaratul maut besar kemungkinan hendak berusaha menyelamatkan diri dengan membelitkan tangannya ke tali.

“Mungkin luka di tangan karena korban saat sakaratul hendak menyelamatkan diri. Makanya tangannya luka. Ini kan masih mungkin, prediksi kami, kami juga tidak mengetahui pastinya,”ujar Nurkholis.

Sementara itu, Kapolres Merangin AKBP I Kade Utama melalui Paur Humas Ipda Echo Sitorus menjelaskan, dugaan sementara korban murni bunuh diri.

“Dari hasil olah TKP dan pemeriksaan fisik korban, polisi menyimpulkan sementara korban memang sengaja ingin bunuh diri. Modusnya masih dalam penyelidikan,”singkatnya.(*)

Penulis : BAHTIAR

Editor    : ANDI PRIMA PUTRA