Hanya Bermodal Semangat dan Doa

oleh

JURNALJAMBI. com – “Sebenarnya, kalau fokus bikinnya, sehari saya bisa dapat 12 buah, tapi kan saya kerja sambil momong Ibu yang lumpuh, jadi cuma dapat 5 – 8 buah saja,” kata Puji Wahyuningsih (41) kepada Kompas.com, Minggu (1/4/2018) pagi.

Matanya terlihat berkaca-kaca namun tangannya tak henti bergerak menyusun helai demi helai kain perca yang tengah dibentuknya menjadi sebuah keset.

Ibu rumah tangga warga Desa Dukun, Karangtengah, Kabupaten Demak, Jateng ini, bersama tetangganya bergotong royong memproduksi alat rumah tangga berbahan baku limbah kain.

Puji mengungkapkan, motivasinya membuat keset adalah untuk mengembangkan kreasi dan memanfaatkan limbah pabrik yang menggunung di sekitar desa mereka.

“Di sini kan ada beberapa pabrik besar yang limbahnya sangat melimpah, jadi kami mencoba memanfaatkannya. Daripada jadi polusi lingkungan,” ungkap perempuan kurus yang sehari hari tinggal di rumah berdinding setengah bata berukuran 3 x 5 meter ini.

Selama perbincangan, tangannya tidak berhenti menganyam kain, jari-jarinya dengan lincah menari-nari menyelipkan bahan panjang berwarna warni di sela sela besi silinder alat pembuat keset manual.

Puji hanya berhenti jika ibunya yang lemas tergolek di tempat tidur, memanggilnya. Ia bergegas menghampiri orang tua kandungnya itu dan melayani dengan lemah lembut.

Tak jauh berbeda dengan Puji, Nadhiroh (38) yang mendiami sebuah emper rumah berdinding papan lapuk seluas 3×4 m juga mulai tergerak hati untuk mengubah nasib.

Sepenuh semangat, dianyamnya keset keset kain tersebut sambil berkomat kamit melantunkan zikir. Ia meyakini ikhtiar dan doa akan mengubah nasib manusia.

“Alhamdulillah, sekarang teman-teman senasib mau mencoba bikin keset dan cempal, hasilnya kami setorkan kepada ketua kelompok untuk dipasarkan. Kami cuma bikin aja, pemasarannya pasrahke ketua, kalau laku modal kami balik, terus ada laba sedikit dan bisa ngisi kas juga,” ucap perempuan ini sambil tersenyum.

Sang ketua kelompok, Siti Sumiyati, membenarkan cerita anggotanya. Awalnya dia prihatin terhadap nasib tetangganya yang berada di bawah garis kemiskinan. Akhirnya mereka bergabung untuk membuat home industri bernama kelompok usaha bersama (Kube) Srikandi.

“Modalnya hanya semangat dan doa,” kata perempuan beranak satu ini.