Viral, Warga SAD Bawa Seekor Tapir, Katanya Mau Dijual Rp 15 Juta, Loh… Bukannya Ini Hewan yang Dilindungi ???

oleh

ARRI KURNIAWAN

JURNALJAMBI. CO – Sepasang suami istri warga Suku Anak Dalam (SAD) mendadak menjadi viral. Pasalnya, warga SAD tersebut membawa seekor Tapir yang akan dijual Rp 15 juta. Warga yang penasaran pun berbondong-bondong mendatangi lokasi kejadian.

Kejadian itu berlangsung pada Rabu pagi (04/04) di kawasan Taman Pemuda Kota Bangko Kabupaten Merangin, Jambi. Tak banyak ucapan yang disampaikan oleh warga SAD. Bahkan, sepasang suami istri ini enggan menjawab pertanyaan nama dan dari mana mereka berasal. Warga SAD hanya menjawab beberapa pertanyaan yang dilontarkan oleh warga.

“Nak dijual berapo?,” tanya  warga.

“15 juta,” singkat pria warga SAD.

“Dari mano dapatnyo?,” sambung warga.

“Di Rimbo (hutan, red) Sungai Manau,” jawabnya.

Kehadiran hewan Tapir yang dibawa warga SAD sontak menjadi tontonan warga. Warga ramai datang menyaksikannya karena penasaran seperti apa sosok Tapir yang selama ini dilindungi oleh pemerintah.

“Saya belum lihat hewan Tapir, ini baru pertama kali saya melihatnya,” ujar Doni warga Kota Bangko.

Mendapat informasi keberadaan hewan Tapir yang akan dijual, Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) langsung menuju ke Taman Pemuda.

“Tapir ini adalah salah satu hewan yang dilindungi di Indonesia. Makanya kita datang melihat,” sebut  Desi Anggraini Penyuluh Kehutanan BKSDA Jambi ditemui dilokasi.

Desi mengaku kewalahan untuk mengamankan hewan yang dilindungi dari tangan pemilik. Sebab hewan tersebut dikuasai oleh warga SAD.

“Yang membawanya adalah warga SAD, jadi kita masih nego. Ini butuh kehati-hatian. Sebab, warga SAD punya pemikiran yang berbeda dengan kita,” ungkapnya.

Desi mengatakan, pihaknya akan terus melakukan pemantauan dan negosiasi dengan warga SAD pemilik hewan tersebut. Mereka berharap hewan tersebut bisa dilepaskan.

“Saat ini kita memantau dulu dan meminta agar Tapir dilepaskan,” ucapnya.

Disinggung apakah ada kompensasi terhadap pemilik untuk melepas hewan tersebut. Desi menyebutkan, tidak ada kompensasi sama sekali.

“Kalau kompensasi dari pemerintah tidak ada. Nanti kalau diberi kompensasi, orang lain menemukan ingin kompensasi dan begitu seterusnya,” ungkap Desi. (*)