Tradisi Coret Seragam Usai UN, Zubir: Jangan Sampai Kebahagiaan Berujung Duka

oleh

BAHTIAR

JURNALJAMBI.CO – Sudah menjadi tradisi. Setiap kali Ujian Nasional (UN) berakhir, para siswa kompak lakukan aksi coret seragam. Tak jarang, aksi tersebut berujung pada tindakan anarkis seperti tawuran dan konvoi serta kebut-kebutan dijalanan.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Meranign Provinsi Jamb, M. Zubir menghimbau agar para siswa tak lagi melakukan aksi coret seragam dan kebut-kebutan dijalan.

“Aksi coret seragam, konvoi dan kebut-kebutan usai UN memang seperti tradisi. Tapi, tindakan ini sebenarnya bukanlah tindakan yang baik. Sebab, masih banyak adik-adik kelas yang kurang beruntung yang membutuhkan seragam tersebut. Dari pada dicoret, mending disumbangkan,” ujar Zubir.

“Konvoi dan kebut-kebutan dijalanan juga mungkin dianggap sebagai sesuatu yang seru dan menyenangkan. Tapi, faktanya aksi tersebut justru merugikan masyarakat pengguna jalan lainnya. Seringkali, aksi konvoi menyebabkan jalanan macet dan bahkan berujung pada kecelakaan lalulintas,” tambahnya.

Untuk meminimalisir hal tersebut, Zubir mengaku telah menginstruksikan kepada seluruh Kepala Sekolah untuk memantau anak didiknya usai pelaksanaan UN.

“Bukan hanya Kepala Sekolah, kami juga meminta bantuan dari pihak Kepolisian dan Sat Pol PP untuk mencegah terjadinya aksi coret seragam, konvoi dan kebut-kebutan,” terang Zubir.

Lalu, adakah sanksi bagi siswa yang melakukan aksi coret seragam?

“Rasanya tidak tega kalau harus memberi sanksi yang berat. Sejauh ini sanksinya hanya sebatas teguran saja. Kita ingatkan bahwa apa yang mereka lakukan itu bukanlah hal yang baik. Jangan sampai, usai UN inginnya bahagia malah berujung duka,” pungkasnya. (*)