Probosutedjo, Adik Presiden Soeharto Tutup Usia

oleh -11 views

JURNALJAMBI.CO – Adik dari Presiden kedua RI Soeharto, Probosutedjo, dikabarkan meninggal dunia pada Senin (26/3) pagi.

Probosutedjo mengembuskan nafas terakhirnya pada usia 87 tahun di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta.

Hal tersebut dikonfirmasi dari salah satu staf putri mendiang Soeharto, Siti Hediyati Hariyadi alias Titiek Soeharto.

“Iya mas, pak Probosutedjo meninggal pagi tadi, dan ibu [Titiek Soeharto] sedang menuju Jogja [Yogyakarta] menghadiri pemakaman,” demikian keterangan dari Dina, staf Titiek kepada CNNIndonesia.com, Senin (26/3).

Selain itu, Titiek Soeharto sendiri membenarkan kabar tersebut. Dalam pesan singkatnya, Titiek mengatakan bahwa Probosutedjo meninggal pagi pukul 07.10 WIB di RSCM.

“Semoga diampuni dosa-dosanya, diterima amal ibadahnya dan mendapat tempat yang mulia disisi Allah SWT,” kata Titiek.

Rencananya, jenazah mendiang adik Soeharto ini akan dibawa ke Yogyakarta untuk dikebumikan. Namun, sbelum dibawa ke Yogya, Probosutedjo akan disemayamkan sementara di rumah duka di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat.

“Saat ini jenazahnya masih di RSCM. Pukul 15.00 WIB baru akan dibawa ke Yogya,” kata Dina, staf Siti Hediati Rukmana (Titiek Soeharto), saat dikonfirmasi CNNIndonesia.com, Senin (26/3).

Probosutedjo lahir di Kemusuk, Bantul pada 1 Mei 1930. Sepanjang hidupnya, dia dikenal sebagai seorang pengusaha ternama di Indonesia sekaligus pendiri Universitas Mercu Buana melalui Yayasan Menara Bhakti.

Dia juga sempat menjabat sebagai petinggi di PT Menara Hutan Buana sebelum terjerat kasus dana reboisasi hutan tanaman idustri senilai Rp100,931 miliar pada 2003 silam.

Kasus tersebut membuatnya harus mendekam di penjara selama hampir 5 tahun lamanya. Dan pada 12 Maret 2008 Probo dinyatakan bebas bersyarat.

Dari dalam penjara itulah dia mencetuskan ide mengembangkan padi organik, yaitu produksi padi tanpa bahan kimia.

Akhirnya, melalui PT Tedja Kencana Tani Makmur, ia terjun di bisnis padi organik. Ia menjalin pola kemitraan dengan para petani.

Dalam wawancara dengan Antara, 15 Maret 2008 lalu, ia mengaku baru enam bulan memulai bisnis produksi padi.

Kendati terbilang pemain baru, padi organik yang dihasilkannya mencapai lebih dari 10 ton gabah kering panen (GKP). Padahal, rata-rata produksi di Karawang hanya 6,2 ton pada 2007.

Setelah itu dia menggagas program Simponi (Sistem Penanaman Padi Organik) yang dikembangkan di Majalengka, Cianjur, Sumedang, Karawang, Indramayu, Pekalongan, Klaten, termasuk tanah kelahirannya, Yogyakarta.

Luas kerja sama perusahaan dengan petani telah mencapai 5.000 hektare (ha) pada saat itu. Probosutedjo tidak menjelaskan jumlah investasi yang dikeluarkannya untuk Simponi, namun kerja sama dengan petani terus berkembang.

Menurut Probosutedjo, ia ingin selalu melibatkan kontribusi petani dalam setiap usaha yang digelutinya.

Selain membiakkan uangnya lewat usaha, Probosutedjo juga dikenal memiliki pengalaman sebagai guru di Perguruan Taman Siswa, Pematang Siantar, Sumatra Utara. Pada 10 November 1981, ia mendirikan Akademi Wiraswata Dewantara.

Misi pendidikan akademi itu adalah mengembangkan model pendidikan untuk melahirkan pengusaha pancasila dan kader-kader pembangunan yang mandiri, mampu menciptakan kesempatan kerja.

Tiga tahun berselang, Yayasan Menara Bhakti berdiri. Disusul pada 1985, Universitas Mercu Buana. Tiga fakultas pertama yang mengawali kampus asuhan Probosutedjo ini pun tak jauh-jauh dari bidang keahliannya, yakni Teknik, Pertanian, dan Ekonomi. (*)