Fans Dilan 1990 Meributkan Rindu dan Rayuan dengan Penulis

oleh

JURNALJAMBI.CO – Selasa (13/2) sore di Dusun Mrisi, Kasihan, Bantul, Yogyakarta, tampak berbeda dari hari biasanya. Di salah satu rumah berbentuk joglo tak jauh dari pabrik gula Madukismo itu, belasan anak muda mengelilingi seorang pria paruh baya.

Pria yang menjadi pusat kekaguman para remaja itu adalah Pidi Baiq, sang penulis novel Dilan 1990 yang sedang ramai dibicarakan setelah film dengan judul yang sama ditayangkan di bioskop. Dalam hitungan hari, filmnya sudah ditonton jutaan pasang mata.

Suasana akrab tercipta meski usia mereka terpaut puluhan tahun. Seperti sahabat, mereka berdiskusi dengan seru tentang novel dan film hingga masalah kehidupan saat ini.

Padahal, sebagian besar mereka baru pertama kali bertemu sosok Pidi yang kerap disapa ‘Ayah’ ini. Selama ini, sosok Pidi hanya ditemui melalui akun Twitter.

Pidi kebetulan mampir ke Yogyakarta selepas dirinya menghadiri sebuah acara di Solo, Jawa Tengah.

Ketika Kompas.com tiba di rumah yang rencananya akan dibuat menjadi “Rumah The Panas Dalam Jogja” itu, Pidi menyapa dengan senyuman khas.

Secangkir kopi, air mineral, dan rokok menemani perbincangan, berbumbu kelakar, sepanjang petang. Obrolan ringan, tetapi terkadang menjadi berat, kembali cair karena Pidi kerap melontarkan kelakar ringan dan memberikan kebebasan kepada pada remaja itu untuk bertanya kapan saja.

Ayah Pidi pun bercerita awal menulis novel Dilan. Dia mengakui bahwa dirinya diliputi penuh emosi dan pergolakan jiwa saat menulis rangkaian novel Dilan.

“Sampai ke sini (sambil kedua tangannya diangkat di sekitar leher). Anak saya pun sampai bertanya. Kamu tahu (saya) menangis tetapi tidak mengeluarkan air mata. Kalau mau pembaca gitu (menangis), kamu harus begitu,” katanya.

Dia membandingkan emosi yang dirasakannya saat menuliskan novel “Dilan” dan novel “Drunken Monster” yang merupakan kisah kontemporer.

“Dilan itu buku jelek makanya aku jual. Saya menulis buku (Dilan) karena tidak tahu apa yang akan aku lakukan. Karena tujuan saya ke bumi untuk Jumatan. Sisa waktu itu menulis buku,” tuturnya.

“Kalau serial ‘Drunken’ kan temporer masa kini, masak saya kehilangan akal. Kalau novel ‘Dilan’ itu saya memiliki akal kembali. Artinya masih ada kompromi dengan norma, kalau ‘Drunken Monster’ kan banyak menulis keburukanku. Semua membekas, waktu akan membuat saya lupa, tetapi yang saya tulis yang membuat saya ingat,” ucapnya.

Pidi mengakui, banyak pro-kontra terhadap sosok Dilan yang ditulisnya. Misalnya, tentang Dilan yang berani melawan guru dan tidak menggunakan helm saat menggunakan motor.